Latest Tweets

banner image

footer social

banner image

Menghapus Persepsi Negatif terhadap Anjing



Ketika di indonesia, saya hampir tidak pernah menyentuh anjing dan bahkan sudah takut duluan.
Di satu sisi, anjing (air liurnya) memang dianggap najis dalam ajaran Islam. Di sisi lain anjing sudah terstigma sebagai binatang galak, suka menggigit, dan suka menggonggong.
Label-label seperti:
"Awas anjing galak" dan
"yang pipis di sini cuma anjing",
juga penggunaan kata "anjing" untuk menghina orang atau mengungkapan kekesalan membuat anjing terasosiasikan dengan hal-hal negatif
Di sini (Glasgow, UK) saya mencoba untuk menghapus stigma yang ada di kepala saya terhadap anjing.
Saya dan beberapa teman bergabung dengan website www.borrowmydoggy.com dan menjadi pengasuh anjing selama beberapa jam.
Selama dua jam, saya bermain bersama Jess (Labrador) & anaknya Rosie (Labradoodle).
Saya dan teman-teman adalah orang asing bagi Jess & Rosie. Namun tak disangka Jess & Rosie langsung menunjukan keramahan mereka dengan loncat ke arah kami dan mememluk kami. Mereka sangat penuh kasih sayang dan penurut.
Bahkan ketika kami melepas tali (lash) Jess & Rosie, mereka tetap berada di sekitar kami dan segera datang ketika kami memanggil nama mereka.
Saya baru belajar bahwa Anjing adalah makhluk Tuhan yang sangat lucu dan bersahabat.
Saya belajar bahwa kita harus bisa mencintai semua makhluk hidup.
Sebagai informasi tambahan, anjing juga sangat berguna untuk orang-orang dengan mental illness, lansia di rumah jompo, dan juga untuk orang-orang dengan gangguan penglihatan.
Di kota Glasgow banyak anjing yang menjadi "therapet" dan menjadi "penolong" manusia.
Yuk kita bersahabat dengan anjing.
Anjing bisa merasakan emosi manusia. Saya kira, anjing-anjing di Indonesia sering menggonggong karena kita sudah memproyeksikan emosi negatif ke mereka.

*************************************************************************

karena di Facebook saya banyak yang komentar dan berfokus pada konsep 'najis' (yang padahal cuma satu baris dari seluruh paragraf saya), di sini saya tambahkan niat awal kami memposting ini. mohon dibaca:
Senang banyak yang komentar, berarti tujuan membangun awareness dari post ini cukup tercapai :')
Kalau dibaca lagi tujuan post ini adalah untuk memaparkan beberapa sisi positif dari relasi antara manusia dan anjing yang seringkali dibatasi oleh 'aturan', tapi fokusnya bukan pada aturan tersebut. Ada poin-poin seperti anjing sebagai sarana terapi dan membantu kesehatan mental disini. Contohnya, ada salah satu pasien di rumah sakit dimana pengunjungnya hanyalah satu anjing therapet dan anjing tersebut sangat berjasa dalam menemani si pasien dalam masa-masa penyembuhan.
Soal korelasi antara 'persepsi negatif' dan 'najis' rasanya kita perlu lebih jujur dan peka terhadap sekitar. Aku sendiri dibesarkan dengan dogma bahwa 'Jangan dekat-dekat anjing, najis' atau 'Jangan main sama anjing, nanti digigit'. Hal-hal seperti ini sederhana dan memang benar to some extent, tapi reinforcement seperti itu bisa menimbulkan emosi negatif di tataran subconscious.
Kemudian dari organisasi animal welfare dan pengalaman teman, banyak ditemukan beberapa kasus seperti: penyiksaan anjing dan tidak mau menolong anjing karena dianggap najis (walaupun tidak semua, bisa juga karena pada dasarnya orang itu kasar), pemilik anjing yang anjingnya mati diracun karena tidak disukai tetangga sekitar, pemilik anjing yang 'diusir' karena RT setempat ingin lingkungan yang lebih islami, dll. Kita juga bisa menilai bagaimana respons masyarakat ketika ada perempuan muslim yang memilih untuk menyelamatkan anjing di sekitar. tempat tinggalnya (tautan di bawah). Memang tidak perlu sampai seperti yang kami lakukan (mengajak jalan-jalan anjing orang), karena tujuan kami memang berbeda, yaitu untuk membangun awareness dan membuat orang berpikir kembali mengenai persepsi mereka akan anjing.
Saat di Glasgow kami juga memaknai kembali posisi anjing di Indonesia dibandingkan dengan disini. Anjing memiliki kapasitas energi yang tinggi, sehingga energi tersebut harus dikeluarkan. Lazimnya adalah dengan berjalan-jalan dan bermain, tapi karena di Indonesia tempat yang ramah anjing terbatas, masyarakat umum banyak yang tidak suka anjing, dan kebanyakan anjing hanya ditaruh di kandang di luar rumah sebagai anjing penjaga dan bukan keluarga, maka anjing-anjing tersebut mengeluarkan energinya dalam bentuk agresi, misalnya menggonggong. Ditambah lagi, karena anjing sangat peka terhadap emosi, anjing bisa tahu mana orang yang bersahabat dan tidak dengannya. Saat di Glasgow kami kaget ketika menemui keadaan dimana semua anjing sangat tenang, sebagian karena hampir setiap orang tidak merasa terganggu dengan eksistensinya dan banyak tempat-tempat yang animal friendly, bahkan kafe atau kampus. Kami hanya merasa bahwa anjing-anjing (dan binatang lainnya) di Indonesia juga punya hak yang sama kok untuk menjadi sebahagia anjing-anjing di Glasgow 
Regis lagi nugas ga bisa bales jadi diwakili aja yah haha.
Bacaan lebih lanjut.
Manfaat anjing secara umum
http://mentalfloss.com/.../51153/10-benefits-being-dog-owner
Perempuan muslim memberi makan anjing
http://www.hipwee.com/.../apa-salah-desy-marlina.../
Penggagas gerakan 'sentuh anjing' yang diancam mati di Malaysia:
http://www.malaysiandigest.com/.../524232-penganjur...
Menghapus Persepsi Negatif terhadap Anjing Menghapus Persepsi Negatif terhadap Anjing Reviewed by Regis Machdy on September 09, 2017 Rating: 5
Post a Comment
Powered by Blogger.