Latest Tweets

banner image

footer social

banner image

Kita adalah korban kehidupan, tapi mau sampai kapan?




Kita semua adalah korban kehidupan. Korban perlakuan kasar orang terdekat kita: komentar jahat orang tua, kebencian kakak, konflik dengan keluarga besar, pacar dan mantan yang abusive, teman-teman yang toxic, atasan yang emosinya tidak stabil, dosen yang suka mengkritik, orang-orang di jalan yang ekspresinya membuat kita tidak nyaman, bahkan revolusi industri dan sistem kapitalis yang membuat kita tak bisa beristirahat dan harus bekerja terus layaknya robot. Rasanya seluruh isi bumi berkonspirasi untuk menjatuhkan dan melukai kita. Membuat kita tidak nyaman lagi dengan hidup ini. Membuat kita menderita, depresi, cemas atau sudah tak ada energi untuk menjalankan hidup.

Kita adalah korban kehidupan. Bahkan sebagian dari kita mungkin tidak pernah berharap pernah dilahirkan. Terlebih lagi ketika telah banyak luka yang harus kita terima. Tetapi, mau sampai kapan kita merasa bahwa diri ini adalah korban kehidupan. Mau sampai kapan kita mengeluh? Mau sampai kapan kita meratapi nasib ini?

Sudah saatnya kita berdiri di atas kaki sendiri.
Sudah saatnya kita bertanggung jawab atas kehidupan kita. Orang-orang yang dahulu meninggalkan luka di batin kita mungkin sudah lupa akan hal yang pernah dia katakan atau lakukan kepada kita. Mereka pun mungkin sudah berubah. Lalu apa gunanya kita masih menyimpan dendam dan menderita karena perbuatan mereka?

Maafkanlah mereka dan kembalilah ambil kemudi hidup ini. Tinggalkan mereka yang hanya menjadi toxic bagi dirimu. JIka kamu belum dapat lepas dari mereka, bertemu lah saja seperlunya.
Jika kamu belum bisa memaafkan. Tuliskanlah sumpah serapah di sebuah surat, panjatkan segala doa jahatmu pada mereka. Lepaskan semua amarahmu di sana. Kemudian buang surat itu ke tong sampah, atau bakar saja. Dan setelah itu lanjutkan hidupmu kembali.

Percayalah pada dirimu, yakinlah bahwa lukamu akan sembuh dan yakinlah bahwa kamu akan bertemu dengan orang-orang yang sefrekuensi denganmu. Percayalah bahwa lukamu hadir sebagai guru yang akan mendewasakanmu. Guru yang akan menjadikanmu compassionate dan lebih peka terhadap orang-orang lain yang sedang bertarung dengan dirinya sendiri.

Yakinlah bahwa kamu adalah pemenang kehidupan. Kamu siap bertumbuh dan menjalani hari sebagai manusia tangguh dan penuh cinta kasih.





Written by @Regismachdy

Sumber gambar:


                                                                           
Kita adalah korban kehidupan, tapi mau sampai kapan? Kita adalah korban kehidupan, tapi mau sampai kapan? Reviewed by Regis Machdy on March 08, 2018 Rating: 5
Post a Comment
Powered by Blogger.